Miris memang jika kita menengok pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya mereka yang berada di pedalaman. Bahkan seorang stag khusus Presiden mengatakan kalau membutuhkan waktu yang lama dan usaha keras untuk dapat mengejar ketertinggalan kita dalam pendidikan jika dibandingkan dengan negara maju.

Berdasarkan penelitian dari profesor di Harvard, Indonesia setidaknya membutuhkan 128 tahun untuk bisa mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan dengan negara maju. Ia juga memiliki pendapat yang sama dengan hasil dari riset yang dilakukan Sanders and Rivers, kalau kualitas guru sangatlah mempengaruhi kualitas dari para peserta didik.

Ia menyampaikan hal ini saat menjadi narasumberpada diskusi yang memiliki tema Merdeka Belajar : Apakah Indonesia mampu menyelesaikan tantangan pendidikan?

Selain itu untuk bisa mengubah kualitas guru yang ada pada saat ini, sangatlah membutuhkan banyak waktu. Di Indonesia sendiri terdapat setidaknya 4 juta guru, jika melakukan pelatihan kepada setidaknya 100 ribu guru satu tahunnya, kira – kira masih membutuhkan 40 tahun lagi untuk Indonesia bisa mengejar sistem pendidikan dunia saat ini. Itu juga jika sistemnya belum berubah lagi.

Menurutnya juga, akses internet dan inovasi yang ada merupakan kunci dari pemberdayaan antara guru dan murid. Ini sejalan dengan lonjakan dari pengguna Internet di Indonesia. Di tahun 2008 sendiri, kala itu terjadi lonjakan pengguna internet dari yang awalnya hanya 25 juta pengguna, melonjak menjadi 171 juta pengguna di tahun 2018.

Kini semua rovolusi pada pendidikan dirasa membutuhkan elemen digital. Selain itu staff khusus menteri pendidikan dan juga kebudayaan Pramoda Dei Sudarmo mengatakan kalau Indonesia perlu untuk meningkatkan inovasi sehingga bisa berpengaruh kepada pemerataan kualitas pendidikan nasional.

Ia juga menegaskan kalau kolaborasi adalah kunci utama dalam pemerataan pendidikan yang berkualitas untuk bisa melahirkan SDM yang unggul dan memiliki daya saing yang tinggi. Ia meyakini program Merdeka Belajar merupakan langkah yang sudah tepat untuk bisa memberikan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

Merdeka belajar sendiri memiliki paradima kebebasan yang masing – masingnya dapat memilih untuk belajar apa yang ia inginkian. Karena pengaturan dan penyetaraan akan menghasilkan inovasi. Masih ada kesenjangan kualitas pendidikan dari sekitar 4.670 perguruan tinggi dan juga 8 juta mahasiswa di Indonesia.

Sebabnya, tugas selanjutnya adalah mendorong peserta didik sehingga dapat lebih cepat adaptif dengan dunia kerja. Juga mencari solusi dari program studi yang belum optimal untuk terserap ke dunia usaha.

Apalagi dunia kini berubah dengan sangat cepat dalam semua sektor yang ada. Ini merupakan dampak dari teknologi yang mengubah cara kita dalam memandang dunia dan juga pendidikan. Seluruh dunia bahkan telah menyepakati kalau pendidikan adalah bagian dari HAM atau hak asasi manusia. Hal ini tercantum di dalam United Nation Declaration of Human Rights.

Kini meski masih belum menjadi yang terbaik, sebenarnya pemerataan pendidikan di Indonesia sudah semakin terlihat. Pemerintah seakan benar – benar memperjuangkan pendidikan di negeri kita ini dengan terus memberikan segala program yang dapat memperbaiki pendidikan.

Sedangkan untuk masalah pemerataannya, pemerintah juga sudah membuat program yang diharapkan dapat berjalan dan bisa membantu pendidikan di Indonesia berkembang menjadi lebih baik lagi.

Apalagi kini sepertinya menteri pendidikan kita, Nadiem, tampak memiliki program – program berkualitas yang tampaknya memiliki dampak kuat untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Semangat Indonesia!!

By author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *